Kamis, 29 Desember 2016

Pengendalian Diri



ETIKA DAN PENGENDALIAN  DIRI
Sukadana, S.Ag.M.Si
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung


  1. PENDAHULUAN
Etika adalah  pengetahuan tentang  tata susila  yang berbentuk  kaidah – kaidah yang berisi  larangan – larangan atau suruhan –suruhan  untuk berbuat sesuatu. Dengan demikian  dalam etika kita   dapati ajaran tentang  perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk.  Perbuatan yang baik itulah supaya dilaksanakan dan perbuatan yang buruk itu patut dihindari.
            Tiap – tiap  perbuatan itu  berdasarkan atas kehendak atau budhi . jadi apa yang diperbuat orang itu bermula dari kehendak . oleh karena manusia dihadapkan  kepada dua pilihan yaitu pilihan pada yang baik dan buruk, maka ia harus mempunyai kehendak  bebas untuk memilih. Tanpa kebebasan itu orang tidak dapat memilih yang baik. Dalam hubungan ini manusia  mempunyai kebebasan yang terbatas juga . yang membatasinya itu adalah norma – norma  yang berlaku.
            Dengan demikian  norma berarti sebuah ukuran yang kemudian dalam hubungannya dengan etika berarti pedoman, ukuran atau  haluan untuk bertingkah laku. Norma ini timbul karena kita berada bersama orang lain dan lingkungan hidup serta alam.


  1. ETIKA DALAM AGAMA HINDU
Tentu saja etika dalam agama hindu adalah norma agama yang dijadikan titik tolak berpikir. Demikian  pula kepercayaan, paham – paham  filsafat agama hindu mempunyai  kedudukan yang amat penting dalam etika hindu.
            Karena agama hindu berpangkal dari kepercayaan kepada Tuhan yang berada dimana – mana, yang mengetahui  segal-galanya. Beliau adalah saksi  agung yang menjadi saksi segala perbuatan  manusia. Karena itu manusia tidak dapat  menyembunyikan segala perbuatan yang baik maupun yang buruk. Disamping keyakinan  bahwa Tuhan mengetahui segala perbuatan orang, umat hindu  amat meyakini  akan adanya hukum karma yang  menyatakan bahwa setiap  perbuatan itu  ada akibatnya.  Bila seseorang berbuat baik  maka ia akan memetik buah yang baik dan bila  seseorang berbuat buruk maka ia akan memetik hasil yang buruk pula.
Dalam  kitab Sarasamuscaya sloka 27  dinyatakan :
            Surupa tam atma gunam ca vistaram,
            Kulnvayam drvya smrddhisancayam,
            Naro hi sarvam labhate yathakrtam,
            Sadasubhenatmakrtena karmana,
 Terjemahannya :
Apa saja orang tabur, itulah ia akan petik  , seperti cantil dan menarik, lahir dalam keluarga tepandang, kaya dan makmur yang melimpah – limpah .

Keyakinan akan adanya Tuhan yang mengetahui segala dan adanya hukum karma , menyusup sampai kelubuk hati umat hindu sehingga  mereka berusaha menghindari perbuatan – perbuatan  jahat dan yang amat tercela. Oleh karena etika agama hindu bertolak dari norma agama maka ia tidak sekedar  etika penampilan luar saja, namun ia menuntun umat hindu untuk berbudi pekerti yang luhur. Persoalan – persoalan yang diajarkanpun juga tentang peruatan yang baik dan buruk, salah  dan benar. Untuk dapat memilih  yang baik dan benar orang mempergunakan  Wiweka , yaitu kemampuan  untuk membedakan , memilih dua hal  yang berbeda  dan kemampuannya itu merupakan  pembawaan sejak lahir.
            Dalam diri manusia  terdapat dua sifat yang disebut dengan Daiwi Sampad dan Asuri  Sampad..
Daiwi Sampad  yaitu kecendrungan  - kecndrungan yang mulia yang menybabkan manusia berbudi luhur yang mengantarkan orang utnuk  mendapatkan kerahayuan.  Sedangkan Asuri Sampad  adalah kecendrungan -  keraksasaan. Kencendrungan ini  adalah kecendrungan yang rendah yang menyebabkan  manusia berbudi rendah  dan menyebabkan manusia jatuh kejurang neraka. Kedua sifat ini  ada pada setiap orang  hanya dalam ukuran yang berbeda – beda . ini berarti bahwa setiap orang  terdapat sifat yang baik dan buruk.
            Sarasamuscaya menyebutkan bahwa :  Hanya manusialah yang  mengenal  perbuatan yang salah dan benar, baik dan buruk. Dan dapat menjadikan yang tidak baik  itu menjadi baik. Itulah  salah satu kemampuan mausia yang diberikan  Tuhan .


  1. PENGENDALIAN DIRI
Agar orang tidak dikuasai oleh kecendrungan – kecendrungan yang negative ia harus mampu mengendalikan diri dari guncangan – gundangan hati yang tidak baik. Guncangan – guncangan itu semula  ada dakam angan-angan dalam bentuk keinginan. Setiap keinginan  menuntut kepuasan  pada obyeknya. Indria  merupakan alat untuk  memnuhi keinginan itu.  Indrialah yang menghubungkan manusia dengan ala mini . sentuhan indria dengan ala mini menimbulkan  guncangan-guncangan pribadi orang.  Bahkan  tidak jarang orang mendapat celaka karena terlalu memenuhi keinginan indrianya. Karena itu orang  harus dapat mengendalikan  indrianya  pada hala-hal yang membawa  kesifat positif. 
Kitab sarasamuscaya sloka 71 menyebutkan demikian. :
            Indriyayeva tat sarvamyat svarga narakavubhau,
Nigrhitanissrstanisvargaya,  narakaya ca

 Nyang pajara waneh, indriya ikang sinanggah swarga  naraka, kramanya, yan  kawasa kahrtanya, ya ika saksat swarga ngaranya, yapwan tan kawasa kahrtanya saksat naraka ika.

Terjemahanya :
            Inilah yang patut saya ajarkan lagi, indriyalah yang dianggap surga dan neraka. Bila orang sanggup  mengendalikannya, itu semata – mata  surga namanya, tetapi bila tidak sanggup mengendalikannya benar – benar  nerkalah ia.

Kitab Upanisad 1.3-9 menyebutkan demikian :
           
            Atmanam rathinam vidhi,
            Sariram ratham eva tu,
            Bhuddhim tu sarathim viddhi,
            Manah pragraham  eva ca.
                        ( Katha Upanisad 1.3)
Terjemahannya:
            Ketahuilah bahwa sang  pribadi adalah tuannya kereta , badan adala kereta. Ketahuilah bahwa kebijaksanaan itu adalah  kusir, dan pikiran  adalah  tali kekangnya

            Indriyani  hayan ahur  visayam tesu  gocaran,
            Atmendriya mano yuktam bhoktety ahur manisinah.
                                                            ( Katha Upanisad 1.4)

Terjemahan :
            Indria, mereka menyebut , adalah kuda, sasaran indriya adalah jalan, sang pribadi dihubungkan dengan badan indriya dan pikiran, ialah yang  menikmati demikian orang – orang pandai  menyebutkannya.

Yas ty avijnavam bhavaty ayuktena manasa sada, tasyendriyany avasyani desttasva iva saratheh.
( Katha Upanisad 1.5)

            Terjemahan :
Dia yang tidak memiliki kesadaran, yang pikirannya tidak terkendali, yang indriyanya tidak dapat diawasi, semua itu adalah laksana kuda banal bagi si kusir.
Yaste wijnanavan bhavati, yuktena manasa sada,
Taendriyani vasyani sadava iva saratheh.
                                    ( Katha Upanisad 1.6)

            Terjemahan  :
Dia yang memiliki  kesadaran , yang  pikirannya selalu  terkendali, yang  indriyany adapat diawasi , semua itu  laksana kuda yang bagus bagi si kusir.
                                   
Yas tvavijnanavan bhavaty amanskas sada sucih na sa
Tat padam apnoti samsaram cadhigacchati.
( Katha Upanisad 1.7)

            Terjemahan  :
Dia yang tidak memiliki  kesadaran, yang tidak  kuasa atas  pikirannya yang tidak suci, ia tidak akan sampai pada tujuan hidupmya, bahkan akan kembali kepada  kesengsaraan.

Yas tu vijnanavam bhavati samanaskas sada sucih sat u tat padam apnti yasmat na jayate
( Katha Upanisad 1.8)
             Terjemahan  :
Dia yang memiliki kesadaran, yang kuasa atas pikirannya yang senantiasa suci bersih, akan mencapai tujuan hidupnya dank arena itu tidak akan dilahirkan ke dunia ini lagi.

Vijnana sarathir yastu manah pragrahavan narah, so dhvanah
Param apniti tad visnoh paramampada.
( Katha Upanisad 1.9)
           
            Terjemahan :
Ia yang memiliki kesadaran akan kusir kereta itu dan mengendalikan tali kekang pikirannya, ia mencapi akhir dari perjalanan itu yaitu alam tertinggi, alamnya ia yang meresapi segala.


Dalam kitab – kitab lain masih banyak ajaran tentang etika yang mengajarakan kepada kita  agar hidup ini didasarkan atas dharma. Ini berarti  kita harus berfikir , berkata, dan berbuat  yang baik  dan benar sehingga kita  mendapat kerahayuan . hanya dengan melaksanakan dharma orang  mendapat kebahagiaan di dunia  dan
khirat.


  1. Penutup
Agar orang  dapat hidup bahaiga , rahayu, jauh dari hal – hal  yang mengantarkan ia  kejurang neraka, maka   agama hindu memberikan pedoman – pedoman   untuk  diteladani dan dilaksanakan  sebagai rambu – rambu didalam menjalankan  bahtera kehidupan ini , pedoman  dimaksud seperti misalnya :
 Mengindari    Sad ripu, Sapta Timira, Dasa Mala  dan  pedoman yang patut dilaksanakan seperti :   Dasa yama Brata Dasa Niyama Brata, Tri Kaya Parisudha , sehingga  kita  tidak terjerumus  kejalan yang bertentangan dengan dharma .




Ajaran Etika



AJARAN ETIKA DALAM KITAB SUCI WEDA
Sukadana S.Ag,M.Si
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung


I.       Pendahuluan
a.       Pengertian Weda
                  Dengan mendengar perkataan Weda kita selaku umat Hindu rasanya perkataan tersebut telah merasuk kedalam sanubari kita baik dari kalangan masyarakat yang telah intelek tingkat pemikirannya, seperti mereka telah betul-betul mengetahui dengan pasti pengertian atau arti dari kata Weda tersebut. Namun sebenarnya masih banyak diantara kita belum tau apa sesungguhnya Weda itu. Sangat disayangkan kalau kita sebagai umat Hindu tidak tau dan tidak mengerti akan arti kitab suci Weda. Untuk menjawab pertanyaan itu, maka disini akan diuraikan pengertian dari kata Weda. Pustaka suci Weda adalah merupakan sumber hukum Hindu, segala isinya diyakini dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai Umat Hindu adalah menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar lagi dalam kepatuhan dan ketaatannya untuk menjalankan segala isi Weda itu. Dengan pendek kata dapat diucapkan bahwa Weda adalah merupakan sumber keseluruhan ajaran agama Hindu, dan itulah yang disebut Kitab Suci atau Pustaka Suci.
      Adapun kata Weda berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari akar kata “Wid” yang berarti tahu, dan kata “Weda” berarti pengetahuan. Tapi apa bila kata Weda di tulis dengan aksara a panjang (a dirga), maka kata Weda berubah artinya yaitu menjadi suatu kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu atau dilagukan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Weda adalah suatu kata-kata yang penuh arti dan rahasia yang diucapkan dengan dinyanyika dan dilagukan. Oleh karena itu Weda dapat pula disebut kitab “mantra”. Dan memang orang bermantera itu sama dengan orang yang sedang berWeda. Apa lagi Weda tersebut digubah dalam bentuk-bentuk sair (puisi).
                  Disamping pengertian Weda yang telah diuraikan diatas, disini perlu juga diuraikan pengertian dari kata mantera. Salah satu bagian dari ilmu agama adalah mempelajari mantra, untuk dapat meningkatkan kwalitas hidup kerohanian, setiap umat Hindu hendaknya dapat menekuni dan mematuhi setiap isi ajaran Weda. Untuk dapat memenuhi hal itu maka Weda digubah dalam bentuk mantra-mantra, maka setiap umat Hindu pula diwajibkan untuk mengetahui dan mempelajari mantra. Dengan catatan setelah mampu menguasai mantra-mantra, janganlah mantra tersebut disalahgunakan. Yaitu digunakan untuk hal-hal yang kurang terpuji, seperti misalnya untuk menyakiti seseorang, menipu seseorang, untuk menguna-gunai seseorang dan lain sebagainya yang sejenis dengan itu pendek kata mantra tersebut hendaknya dipergunakan untuk kebenara, hal ini dapat menolong dirinya sendiri maupun orang lain. Berarti orang yang telah menguasai mantra tersebut telah dapat meningkatkan kwalitas hidup kerohaniannyake tingkat yang lebih tinggidan nantinya dapat mengantarkan jiwanya ketempat yang penuh dengan kebaikan dan kegemerlapan yaitu sorga.oleh karena itu tidak ada salahnya setiap umat Hindu mengetahui ajaran agamanya, mengetahui isi Weda dan mampu bermantra atau berWeda, ini tidak terbatas pada golongan umat tertentu, hal ini tergantung dari tingkat kesucian mereka masing-masing bahkan dihadapan Tuhan manusia itu sama.
        Pada mulanya orang tidak mengetahui bahasa apa yang digunakan dalam Weda. Dengan mudahnya saja dikatakan bahwa bahasa yang dipakai dalam Weda adalah “Daivivak” atau Dewata. Tetapi kemudian pada tahun 200 SM barulah diketahui bahasa yang dipergunakan dalam Weda adalah bahasa sansekerta. Nama bahasa sansekerta ini pada mulanya diperkenalkan oleh Bhagawan Patanjali yang menyatakan bahwa bahasa yang dipergunakan dalam Weda adalah bahasa Sansekerta. Kemudian bahasa sansekerta itu berkambang subur menjadi percakapan sehari-hari, kesusastraan, ajaran-ajaran agama dan lainnya, ditulis dalam bahasa sansekerta.namun yang ditulis dalam bahasa sansekerta hanyalah naskah aslinya saja. Naskah asli tersebut kemudian diterjemahkan kedalam bahasa kawi/bahasa sehari-hari pada zaman itu. Demikian pula komentar dan penjelasan naskah asli tersebut ditulis dengan bahasa kawi atau jawa kuno. Misalnya kitab Sarasamuccaya, kitab Sang Hyang Ajikahamayanikan dan lain-lain. Karena itu untuk kita dapat mengeetahui isi Weda haruslah kita mempelajari bahasa Sansekerta dan bahasa Kawi itu.
        Menurut beberapa para ahli dalam bidang ilmu tentang Hindu mengatakan Weda itu sudah ada sejak 1500 SM, ada yang mengatakan Weda itu telah ada 3000 Th SM bahkan ada yang mengatakan lebih jauh lagi yaitu 6000 SM.tapi yang paling banyak dikatakan bahwa Weda itu telah ada sejak 3000 SM dan mulai penyusunannya adalah berkisar sejak 2500 Th SM – 1500 Th SM. Jadi umur Weda sudah sekitar 4000 tahun. Karena itulah agama Hindu merupakan agama yang tertua didunia.
b.      Pengertian Etika
Etika adalah  pengetahuan tentang  tata susila  yang berbentuk  kaidah – kaidah yang berisi  larangan – larangan atau suruhan –suruhan  untuk berbuat sesuatu. Dengan demikian  dalam etika kita   dapati ajaran tentang  perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk.  Perbuatan yang baik itulah supaya dilaksanakan dan perbuatan yang buruk itu patut dihindari.
            Tiap – tiap  perbuatan itu  berdasarkan atas kehendak atau budhi . jadi apa yang diperbuat orang itu bermula dari kehendak . oleh karena manusia dihadapkan  kepada dua pilihan yaitu pilihan pada yang baik dan buruk, maka ia harus mempunyai kehendak  bebas untuk memilih. Tanpa kebebasan itu orang tidak dapat memilih yang baik. Dalam hubungan ini manusia  mempunyai kebebasan yang terbatas juga . yang membatasinya itu adalah norma – norma  yang berlaku. Dengan demikian  norma berarti sebuah ukuran yang kemudian dalam hubungannya dengan etika berarti pedoman, ukuran atau  haluan untuk bertingkah laku. Norma ini timbul karena kita berada bersama orang lain dan lingkungan hidup serta alam.
Tentu saja etika dalam agama Hindu adalah norma agama yang dijadikan titik tolak berpikir. Demikian  pula kepercayaan, paham – paham  filsafat agama Hindu mempunyai  kedudukan yang amat penting dalam etika Hindu. Karena agama Hindu berpangkal dari kepercayaan kepada Tuhan yang berada dimana – mana, yang mengetahui  segal-galanya. Beliau adalah saksi  agung yang menjadi saksi segala perbuatan  manusia. Karena itu manusia tidak dapat  menyembunyikan segala perbuatan yang baik maupun yang buruk. Disamping keyakinan  bahwa Tuhan mengetahui segala perbuatan orang, umat Hindu  amat meyakini  akan adanya hukum karma yang  menyatakan bahwa setiap  perbuatan itu  ada akibatnya.  Bila seseorang berbuat baik  maka ia akan memetik buah yang baik dan bila  seseorang berbuat buruk maka ia akan memetik hasil yang buruk pula.
Dalam  kitab Sarasamuscaya sloka 27  dinyatakan :
            Surupa tam atma gunam ca vistaram,
            Kulnvayam drvya smrddhisancayam,
            Naro hi sarvam labhate yathakrtam,
            Sadasubhenatmakrtena karmana,
 Terjemahannya :
Apa saja orang tabur, itulah ia akan petik  , seperti cantil dan menarik, lahir dalam keluarga tepandang, kaya dan makmur yang melimpah – limpah .

Keyakinan akan adanya Tuhan yang mengetahui segala dan adanya hukum karma menyusup sampai kelubuk hati umat Hindu sehingga  mereka berusaha menghindari perbuatan – perbuatan  jahat dan yang amat tercela. Oleh karena etika agama Hindu bertolak dari norma agama maka ia tidak sekedar  etika penampilan luar saja, namun ia menuntun umat Hindu untuk berbudi pekerti yang luhur. Persoalan – persoalan yang diajarkanpun juga tentang peruatan yang baik dan buruk, salah  dan benar. Untuk dapat memilih  yang baik dan benar orang mempergunakan  Wiweka , yaitu kemampuan  untuk membedakan , memilih dua hal  yang berbeda  dan kemampuannya itu merupakan  pembawaan sejak lahir.
            Dalam diri manusia  terdapat dua sifat yang disebut dengan Daiwi Sampad dan Asuri  Sampad..
Daiwi Sampad  yaitu kecendrungan  - kecndrungan yang mulia yang menybabkan manusia berbudi luhur yang mengantarkan orang utnuk  mendapatkan kerahayuan.  Sedangkan Asuri Sampad  adalah kecendrungan -  keraksasaan. Kencendrungan ini  adalah kecendrungan yang rendah yang menyebabkan  manusia berbudi rendah  dan menyebabkan manusia jatuh kejurang neraka. Kedua sifat ini  ada pada setiap orang  hanya dalam ukuran yang berbeda-beda . ini berarti bahwa setiap orang  terdapat sifat yang baik dan buruk.
            Sarasamuscaya menyebutkan bahwa:  Hanya manusialah yang  mengenal  perbuatan yang salah dan benar, baik dan buruk. Dan dapat menjadikan yang tidak baik  itu menjadi baik. Itulah  salah satu kemampuan mausia yang diberikan  Tuhan .




II.    Sloka-Sloka Dalam Kitab Suci Weda Tentang Ajaran Etika (Moralitas)
a.       Kebenaran/Kejujuran (Styam)
Sabda suci Weda menyatakan bahwa kebenaran/kejujuran merupakan prinsip dasar hidup dan kehidupan, bila seseorang senantiasa mengikuti kebenaran maka hidupx akan selamat, sejahtera dan memperoleh kebijaksanaan
Berikut beberapa petikan Sloka tentang Kebenaran:
Satyena-utatabhita bhumih,
Suryena-uttabhita dyauh,
Rtena-adityas tisthanti,
Divi somo adhi sritah
                                   Atharvaveda XIV.1.1
Artinya;
Kebenaran/Kejujuran menyangga bumi. Matahari menyangga langit. Hukum-hukum alam menyangga matahari. Tuhan Yang Maha Kuasa meresapi seluruh lapisan udara yang meliputi bumi (atmosfir).

Dalam sloka tersebut menyatakan bagaimana mulianya kebenaran/kejujuran dimana mampu menopang Bumi, sehingga kita diharapkan mampu mengaktualisasikan kebenaran/kejujuran dalam hidup maupun kehidupan sehinga menjadi manusia yang bijaksana dan mulia.

Satyam ca me sraddha ca me
                                                Yajurveda XVIII.5
“semoga Kami menghargai kebenaran dan kepercayaan”

Rtasya jihva pavate madhu priyam
                                                            Samaveda 701
“sifat selalu berbicara kebenaran memberkahi manusia dengan kemanisan yang membesarkan hati”

            Dalam sloka tersebut diharapakan manusia mampu menghargai kebenaran sehingga manusia dapat diberkahi kehidupan yang mulia dan mampu membesarkan hati kita dalam menjalani kehidupan.

b.      Tanpa Kekerasan (Ahimsa)
Jangan merugikan orang lain, jangan menyakiti hati siapapun apalagi mereka yang pernah berjasa. Setiap umat dianjurkan untuk tidak membunuh binatang terutama yang bermanfaat bagi kehidupan.
Ma na uksantam uta ma na uksitam
                                                           Rgveda X.114.7
“Ya Sang Hyang Rudra, jangan menyakiti orang-orang muda dan orang-orang tua”

Ghrtam duhunam aditim janaya-agne ma himsih
                                                                       Yajurveda XIII.49
“Ya Sang Hyang Agni lindungilah, jangan ada yang membunuh sapi betina kami yang menyediakan susu dan mentega untuk masyarakat umum”

Viran ma no rudra bhamino vadhih
                                                           Rgveda I.114.8
“Ya Sang Hyang Rudra, jangan menyakiti para pahlawan kami yang gagah berani”

Anagohatya vai bhima
                                               Atharvaveda X.1.29
“Pembunuh orang yang tidak bersalah berkesudahan di dalam malapetaka”

Dari sabda veda tersebut mengharapkan kepada semua mahluk tuk dapat hidup berdampingan dan saling mengasihi sesame ciptaan Tuhan, sehingga terwujud kedamaian dalam menjalani  hidup dan kehidupan.

c.       Kemurahan Hati/ Kebajikan
Murah hati, suka menolong, dermawan disabdakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk dipedomani oleh umat manusia, orang yang dermawan memperoleh kemulian. Kemurahan hati adalah wujud dari Dharma yakni berupa pemberian atau dana.

Sata-hasta sama hara
Sahasrahasta sam kira
                                               Atharvaveda III.24.5
“wahai umat manusia, perolehlah kekayaan dengan seratus tangan dan dermakanlah itu dalam kemurahan hati dengan seribu tangan”

Na bhoja mamrur na nyartham iyur
Na risyanti na vyathante ha bhojah
                                                           Regveda X.107.8
“Orang-oarang yang tidak picik tidak pernah mati, mereka juga tidak menderita malapetaka, mereka tidak binasa juga tidak menderita”

Daksina vanto amrtam bhajante
Daksina vantah pra tiranta ayuh
                                                           Regveda I.125.6
“orang-orang yang bermurah hati mencapai keabadian, mereka memperpanjang usia mereka”
Pranan itu pranate mayah
                                                           Regveda VII.32.8
“Tuhan Yang Maha Esa yang pemurah memberkahi orang yang penuh kebajikan”

Sabda suci veda tersebut kita sebagai manusia dalam meperoleh kekayaan harus melalui jalan dharma, dan kita mendermakannya kembali, karna orang yang ber_dana akan senantiasa diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa yaitu mencapai Keabadian, Jadi dengan Berderma secara tulus iklas kita akan mampu mencapai keabadian.


d.      Hapuskan Sifat Buruk
Sifat buruk menjerumuskan diri manusia kepada kehancuran, melenyapkan rasa benci kepada seseorang, kedengkian, lesu dan malas, jangan biasakan diri mengucapkan kata-kata makian, sifat cemburu, mengumpat seseorang, tidak mengotori udara, air dan lingkungan.
A ma sucarite bhaja
                                   Yajurveda XVIII.9
“Berikanlah kami tingkah laku dan ahlak yang baik”
Apamivam apa visvam anahutim
Aparatim durvidatram aghayatah
Are deva dveso asmad yuyotana
Uru na sarma yacchata svastaye
                                               Regveda X.63.12

“Wahai Para Dewa bebaskalah kami dari segala penyakit leparkanlah jauh-jauh niat yang buruk yang mungkin menimbulkan berbagai rintangan dalam melaksanakan persembahan. Hapuskanlah semua dugaan yang buruk yang menahan kami memberikan sedekah dan amal, hancurkanlah niat buruk orang yang berdosa, semoga kami tidak menurutkan hati dalam rasa benci berikanlah kami kebahagian untuk kesejahteraan kami.
Dapat kita pahami bahwa sebagai mahluk ciptaan Tuhan harus senantiasa menghilangkan niat buruk sekali hanya dalam pikiran.


e.       Ikuti Jalan Kebajikan
Seseorang hendaknya selalu mengikuti jalan yang benar, jalan kebajikan sebab siapa saja yang berjalan dijalan yang benar akan memperoleh kemakmuran, jasa dan kebajikan. Dekatkanlah diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk senantiasa mendapatkan bimbingan-Nya. Orang yang memiliki keyakinan menjalankan kebenaran maka kebajikannya itu akan melenyapkan kesusahan dan dengan kebajikan dapat menolong dirinya sendiri
Swasti pantham anu carema
Surya-candramasav iva
Punar dadataghnata
Janata sam gamemahi
                                   Regveda V.51.15
“Mari kita terus berjalan pada jalan yang benar seperti jalannya matahari dan bulan. Kita seharusnya bergaul dengan orang-orang yang bermurah hati yang puas (dengan diri sendiri) dan yang berpengetahuan tinggi”.
Kitab suci Regveda mengajarkan kita harus senantiasa berjalan sesuai dengan dharma, dan dalam bergaulpun kita harus mampu memilah untuk dijadikan teman bergaul yaitu orang yang memiliki pengetahuan tinggi.

f.       Hadapi Berbagai Bentuk Kejahatan
Janganlah mundur mengahadapi kejahatan, hadapi orang jahat atau curang dengan kebijaksanaan, taklukkan orang-orang yang bengkok dengan akal yang sehat, perlakukan orang yang jahat sesuai dengan hokum (biarlah hokum yang melindungi dan menghukum mereka), jangan gentar menghadapi pelaku kejahatan, demikian pula jangan memakai ilmu sihir sebab membahayakan pemakainya. Perlakukanlah orang lain sepantasnya dan bahkan sebagai sahabat.
Tvam mayabhir apa mayino
Adham ah, svadhabhir ye adhi
Suptav ajuhvata
                                               Regveda I.51.5
“Sang Hyang Indra Engkaulah meremukan orang-orang yang licik yang menaruh sesaji-sesaji di dalam mulut mereka sendiri dengan alat-alatmu yang baik”

Mayabhir Indra mayinam
Tvam susnam avatirah.
Vidus te tasya medhiras
Tesam sravamsi-uttira
                                               Regveda I.11.7
“Sang Hyang Indra Engkau menaklukkan orang-orang yang curang dan orang-orang yang memanfaatkan sesuatu untuk keuntungan mereka sendiri. Orang yang bijaksana mengetahui tentang itu semoga engkau menyebarkan kemasyuran mereka”

Dalam Regveda dijelaskan, jangan pernah takut untuk menghadapi kejahatan dan hanya dengan kebijaksanaan kita mampu mengalahkan kejahatan
g.      Perbuatan dosa Dan Kejahatan
Perbuatan dosa tidak pernah berhasil baik, sebab kebaikan tidak pernah bersahabat dengan kejahatan. Tuhan Yang Maha Esa pun tidak menolong orang yang berdosa. Bila orang sadar aka dosa lakukan Prayascitta penyucian diri dan berbuat baik setiap saat, pelaku kejahatan akan selalu menderita, cara membebaskan diri dari perbuatan dosa adalah jangan menyerah atau mengikuti sifat-sifat yang buruk.

Asamrddha aghayavah
                                               Atharvaveda I.27.2
“Orang-orang yang berdosa tidak berhasil dengan baik”
Na vau somo vrjinam hinoti
                                               Atharvaveda VIII. 4.13
“Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi tidak menolong orang yang jahat”
Brahmadvise kravyade
Gharacaksuse dveso dhattam
                                                           Regveda VII.104.2
“Tuhan Yang Maha Esa Semoga engkau menghancurkan orang-orang yang membenci orang-orang yang bijaksana yang makan makanan haram dan yang bermata jahat”

Demikianlah beberapa kutipan tentang ajaran etika yang ada dalam kitab suci Veda, segala yang akan kita perbuat harus berlandaskan Dharma karna dharma merupakan kebenaran yang mutlak, sehingga terwujudnya kebahagian, kedamaian, kesejahteraan dan dapat bebes dari benderitaan untuk lahir kembali kedunia.